PEDULIKAH KITA PADA MEREKA?



Melihat gambar di atas menggelitik kenangan masa kecil kita dahulu. Bermain di sungai bersama dengan teman-teman tanpa peduli dengan orang lain yang menganggap kita tak tahu malu. Tetapi begitulah, kepolosan dan keluguan seorang kanak-kanak. Bermain sesuka hati dan menghabiskan waktu untuk besenang-senang merupakan cara terbaik dalam mengisi masa kecil dengan kenangan.
Tak ubahnya dengan gambar tersebut. Saat pertama aku melihat mereka di sungai itu, mereka seolah tak menyadari kehadiranku yang muncul dengan tiba-tiba di tengah sungai tempat mereka tengah asik bermain. Sungai kotor nan keruh dengan paparan sinar matahari yang cukup menyengat tak menghalangi niat mereka untuk menikmati segarnya air sungai Cisadane.
Tampang penuh kebahagiaan dan penampilan tanpa busana mewarnai hampir sebagian dari mereka.
Keasikan bermain mereka seketika terhenti ketika seseorang dari anak-anak itu mulai menyadari kehadiranku di sana.
“Eh, teman-teman lihat deh… Ada kakak-kakak yang lagi latihan tuh!! Lihat yuk!!” komentar salah seorang dari mereka yang membuat teman-teman lainnya datang bergerumul dan memperhatikanku yang tengah latihan penyelamatan water rescue.
Mereka yang tersadar bahwa mereka tengah tak berbusana, tak sedikitpun menunjukkan rasa malunya kepadaku. Dengan asyiknya, mereka menonton aksiku layaknya sedang menonton pertunjukan layar tancap.
Sikap mereka yang ramah dan mudah terbuka pada orang asing, membuatku cepat akrab dengan mereka. Terkadang mereka tampak malu ketika aku menanyakan beberapa pertanyaan pada mereka tetapi toh pada akhirnya mereka jawab juga pertanyaan yang kuajukan.
Sayang, keluguan dan kepolosan tingkah laku mereka justru dimanfaatkan oleh segelintir orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Contoh saja, pada kasus ’Babe’ yang telah melakukan tindak pelecehan seksual hingga pada tindak pembunuhan sadis dengan memutilasi korban-korbannya yang masih sangat belia. Hanya karena penyimpangan hasrat seksualnya, ia tega berbuat keji pada anak-anak itu. Ia tak membayangkan bagaimana hancurnya hati keluarga korban. Ia tak tahu apa yang akan terjadi pada perkembangan korbannya yang selamat. Hanya karena keinginannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi ia rela mengorbankan orang-orang yang tak bersalah. Menghancurkan masa depan seseorang!!
Dimanakah nurani kita sekarang? Perkembangan teknologi dan pengetahuan harusnya dapat menuntun manusia ke arah yang lebih baik bukan malah membobrokan mental. Terkadang melihat anak-anak yang tengah tak berbusana saja hasrat kita untuk melakukan ’hal demikian’ sudah berada di ambang batas. Haruskah karena hal itu, kita jadi melarang anak-anak kita untuk bebas bermain? Melarang meraka untuk bermain dengan alasan untuk keamanan anak bukankah sama halnya dengan mengekang mereka dan membatasi perkembangan kanak-kanak mereka?
Tak heran jika kini banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan karena memiliki trauma masa kecil akan pengalaman masa kanak-kanak yang kurang menyenangkan. Maukah kalian semua jika bangsa ini tumbuh dan dipenuhi dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang disebabkan karena kenangan masa kecil yang tidak menyenangkan?
Inikah akhir dari kenangan masa kecil untuk kanak-kanak masa kini? Dimanakah perlindungan hukum bagi mereka yang masih polos dan lugu hatinya? Setega itukah mereka merenggut kebagahagiaan anak-anak? Tidakkah mereka berpikir, bagaimana jadinya bila mereka mengalami masa kecil yang pahit?
Marilah kita jaga tawa dan senyum mereka dengan sikap peduli akan masa depan kanak-kanak bangsa. Perkembangan jiwa dan mental mereka adalah tanggung jawab kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar